Senin, 19 Agustus 2019

PT KONTAK PERKASA -Mr Trump Suka Labil, Harga Emas Masih Berpeluang Melesat

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 19/08/2019 - Harga emas dunia pada penutupan perdagangan pekan lalu sempat stagnan. Tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menahan reli emas, setelah sebelumnya pelaku pasar dikejutkan dengan ancaman resesi di Negeri Paman Sam tersebut. 

Hingga akhir pekan lalu emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.519.64/troy ons, berdasarkan data investing.com. 
Baca;

PT KONTAK PERKASA – Emas Global Koreksi, Harga Emas Antam Hari Ini Tak Bertenaga


Melihat grafik harian tampak harga emas masih bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), dan MA 21 hari (garis merah), dan atas MA 125 hari (garis hijau). 

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif dan bergerak naik, histogram juga di area positif namun bergerak menurun. Indikator ini masih memberikan gambaran peluang penguatan emas dalam jangka menengah.



Pada time frame 1 jam, emas bergerak di kisaran MA 8 dan MA 21, tetapi masih di atas MA 125. Indikator stochastic bergerak turun dan mendekati wilayah jenuh jual (oversold). 

Support terdekat di kisaran US$ 1.515, selama tidak menembus ke bawah level tersebut emas berpeluang kembali menguat menguji kembali resisten (tahanan atas) US$ 1.526. 

Penembusan di atas resisten tersebut akan membuka peluang ke area US$ 1.530. Resisten selanjutnya berada di level US$ 1.536. 

Sementara jika support ditembus, harga emas berpeluang turun ke US$ 1.508. Outlook emas dalam jangka pendek masih menguat selama tidak menembus US$ 1.508. 

Namun mengingat harga emas masih "galau", jika level US$ 1.508 ditembus secara konsisten, emas berpotensi turun menguji level psikologis US$ 1.500.

Isu perang dagang yang saat ini mereda begitu juga dengan resesi membuat harga emas belum mampu melanjutkan kenaikan lagi. Dua isu ini masih akan mempengaruhi pergerakan harga emas ke depannya. 

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan sinyal positif terkait negosiasi dagang dengan China. 

"Sepengetahuan saya, pertemuan pada September masih terjadwal. Namun yang lebih penting dari pertemuan itu, kami (AS dan China) terus berkomunikasi melalui telepon. Pembicaraan kami sangat produktif," begitu ucapan Trump yang membuat pasar sedikit tenang, dikutip dari Reuters. 

Asa damai dagang kembali menyeruak. Ada harapan perundingan dagang AS dan China di Washington pada awal September menuai hasil positif.

Namun, apa yang diutarakan oleh Trump tidak bisa dijadikan sentimen untuk jangka panjang. Sejarah menunjukkan apa yang dikatakan oleh Presiden AS ke-45 ini kerap berubah-ubah, sekarang memberikan asa damai dagang, besok bisa memberikan kecemasan eskalasi perang dagang. 

Kemudian isu resesi mulai mereda setelah yield obligasi (Treasury) AS tenor 2 tahun dengan tenor 10 tahun sudah tidak lagi mengalami inversi. 

Inversi merupakan keadaan di mana yield atau imbal hasil obligasi tenor pendek lebih tinggi daripada tenor panjang. Dalam situasi normal, yield obligasi tenor pendek seharusnya lebih rendah. Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi. 

Namun, pergerakan yield Treasury itu dinamis, dan sewaktu-waktu bisa saja mengalami inversi lagi. 

Isu perang dagang dan resesi yang mereda membuat harga emas rentan terkoreksi pada hari ini, tetapi tidak menutup kemungkinan kembali menguat mengingat kedua isu tersebut bisa berubah setiap saat. 

Meski dalam jangka pendek harga emas terlihat "galau", tetapi untuk jangka panjang peluang berlanjutnya penguatan harga emas masih cukup besar melihat outlook pelonggaran moneter bank sentral global. 

Kamis, 15 Agustus 2019

KONTAK PERKASA FUTURES - Celah Bearish Muncul Di Pasar Bullish Emas

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 15/08/2019 -  Setelah tiga minggu berturut-turut mengalami penguatan, retakan mulai muncul di lapisan bullish emas, terutama di kalangan analis Wall Street, menurut hasil terbaru dari Survei Emas Mingguan Kitco News.
Ini telah menjadi minggu yang bergejolak untuk logam mulia karena resesi terburuk dan level terendah baru dalam imbal hasil obligasi mendorong investor dari pasar ekuitas dan menjadi aset safe havenalternatif. Namun, pasar emas sedang bersiap untuk mengakhiri minggu dari level tertinggi enam tahun, yang dicapai awal pekan lalu.
Meskipun sentimen, terutama di kalangan analis Wall Street, tetap jelas bullish, sikap kehati-hatian terus menjalar ke pasar.
"Saya pikir sekarang adalah waktu bagi pasar emas untuk beristirahat, tapi mungkin tidak lama," kata Jasper Lawler, kepala riset pasar di London Capital Group. "Bank-bank sentral berada di puncak devaluasi mata uang mereka, dan itu akan baik untuk emas."
Pekan sebelumnya 17 profesional pasar mengambil bagian dalam survei Wall Street. Sebanyak 10 pemilih (59%) menyerukan emas menjadi lebih tinggi pada minggu ini. Sementara itu, tiga analis (18%) mengatakan mereka bearish terhadap emas dalam waktu dekat. Empat peserta (24%) melihat harga emas diperdagangkan sideways dalam minggu ini.
Polling Main Street online Kitco memiliki 1.140 responden. Partisipasi dalam jajak pendapat mencapai tertinggi baru dalam satu tahun, tanda bahwa minat ritel terus tumbuh di pasar. Sebanyak 815 pemilih (71%) meminta emas untuk naik lebih lanjut. 168 peserta lainnya (15%) memperkirakan emas akan jatuh. 156 pemilih yang tersisa (14%) melihat pasar sideways.
Dalam survei terakhir, Main Street dan Wall Street keduanya bullish pada harga untuk minggu sebelumnya yang sekarang mereda. Pada 12:20 siang EDT, emas berjangka Comex Agustus diperdagangkan di level $ 13,00 lebih tinggi sejauh minggu ini di $ 1,521,30 per ons.
Bagi banyak analis pendorong utama untuk emas yang lebih tinggi adalah jatuhnya imbal hasil obligasi, sebuah tren yang diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Menurut banyak analis, sekarang ada perlombaan ke dasar di antara bank-bank sentral global setelah gubernur bank sentral Finlandia, Olli Rehn, mengangkat prospek langkah-langkah pelonggaran baru dari ECB.
Richard Baker, editor Eureka Miner Report, mencatat bahwa emas naik ke level tertinggi multi-tahun baru terhadap euro pada minggu lalu.
"Dengan tingkat obligasi yang semakin negatif di Eropa dan Jepang, emas dengan yield nol tetap bagus," katanya. "Tingkat riil 10 tahun sebenarnya turun sedikit negatif pada minggu lalu - bahkan dengan jatuhnya ekspektasi inflasi - membuat biaya memegang emas sangat murah di AS."
Adrian Day, ketua dan kepala eksekutif Adrian Day Asset Management, mengatakan bahwa bahkan dengan reli emas baru-baru ini, ada permintaan yang cukup untuk mendorong harga yang lebih tinggi dalam waktu dekat.
"Banyak investor merasa bahwa beberapa lindung nilai diperlukan dalam situasi saat ini - Fed yang mudah, pasar saham yang fluktuatif, protes di Hong Kong," katanya. "Jika seseorang menempatkan sejumlah kecil portofolio ke dalam emas sebagai asuransi, maka harganya kurang penting."
Namun, beberapa analis yang bullish jangka panjang juga berhati-hati karena emas tampaknya sedang menguji resistensi jangka panjang.
Mark Leibovit, penerbit VR Metals / Resource Letter, mengatakan bahwa dia bullish pada emas, tetapi dia melihat untuk menarik kembali.
Kevin Grady, presiden Phoenix Futures and Options LLC, mengatakan fakta bahwa emas mampu menahan dukungan awal di atas $ 1.480 menunjukkan bahwa ada beberapa kekuatan mendasar di pasar.
Meskipun membeli emas pada level ini mungkin bukan perdagangan yang menarik saat ini, Grady mengatakan bahwa banyak investor memperdagangkan emas melalui opsi dan buying calls pada penurunan.
Dia menambahkan bahwa satu perdagangan yang dia suka adalah penyebaran call bullish. Ketika emas bergerak kembali ke level $ 1.480, November investor dapat membeli di call $ 1.510 dan pada saat yang sama menjual di call $ 1.575, katanya.
Di sisi lain, beberapa analis mengatakan bahwa emas akan dikoreksi dan pasar sudah terlalu tinggi. Sean Lusk, co-direktur lindung nilai komersial di Walsh Trading, mengatakan dia bearish untuk minggu kedua.
Meskipun dia tidak akan memperpendek pasar di lingkungan saat ini, Lusk mengatakan bahwa dia akan mengharapkan beberapa investor untuk mengambil keuntungan.
"Ada banyak menghendaki di pasar, dan saya pikir ada koreksi di kartu," katanya.
Colin Cieszynski, kepala analis pasar di SIA Wealth Management, mengatakan bahwa ia juga bearish terhadap emas dalam waktu dekat. Namun, jangka panjang ia tetap bullish karena kebijakan moneter bank sentral yang dovish akan terus mendukung harga.
"Emas memiliki kinerja yang baik, tetapi momentum ke atas telah melambat dan banyak perkembangan negatif di sekitar kurva imbal hasil dan perang perdagangan sudah ada di luar sana dan dimasukkan ke dalam harga," katanya. "Mungkin perlu sesuatu yang baru untuk bergerak lebih tinggi." (frk)
Sumber: Kitco News

Rabu, 14 Agustus 2019

PT KONTAK PERKASA -Harga emas turun pada hari Rabu waktu Asia karena keputusan AS

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 14/08/2019 - Harga emas turun pada hari Rabu waktu Asia karena keputusan AS untuk menunda pengenaan tarif pada barang-barang Cina tertentu mengurangi ketegangan antara kedua belah pihak dan mengurangi permintaan untuk logam safe-haven.

Emas berjangka untuk pengiriman Desember diperdagangkan di divisi Comex New York Mercantile Exchange turun 0,4% menjadi $ 1,507.95.

Perwakilan Dagang Amerika Serikat mengumumkan dalam semalam bahwa produk-produk tertentu termasuk pakaian dan ponsel telah dihapus dari daftar tarif berdasarkan “kesehatan, keselamatan, keamanan nasional, dan faktor-faktor lain” dan tidak akan menghadapi tarif tambahan 10%.

Tarif lain akan ditunda hingga 15 Desember dari 1 September untuk barang-barang tertentu, katanya.(Arl)

Sumber : Investing.com(END)

Selasa, 06 Agustus 2019

KONTAK PERKASA FUTURES - Diserbu Dua 'Perang', Harga Emas Naik Lagi


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 06/08/2019 - Harga emas dunia masih terus menanjak dan berada di posisi tertinggi dalam enam tahun. Risiko perekonomian global yang meningkat akibat perang dagang dan perang mata uang (currency war) membuat investor banyak mengalihkan aset mereka ke bentuk safe haven.
Pada perdagangan hari Selasa (6/8/2019) pukul 09:00 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) menguat 0,42% ke level US$ 1.470,7/troy ounce (Rp 662.051/gram).

Adapun harga emas di pasar spot naik 0,18% menjadi US$ 1.466,19/troy ounce (Rp 660.021/gram).
Harga emas COMEX dan spot juga ditutup menguat masing-masing sebesar 0,49% dan 1,61% pada sesi perdagangan kemarin (5/8/2019).



Eskalasi perang dagang menjadi salah satu sentimen utama yang mendorong harga emas hingga saat ini.

Setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan mengenakan bea impor baru sebesar 10% atas produk asal China senilai US$ 200 miliar mulai 1 September 2019, China mulai mengeluarkan serangan balasan.

Juru bicara Kementerian Perdagagan China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal negaranya telah menghentikan pembelian produk-produk agrikultus asal AS, seperti dikutip dari Reuters.
Tampaknya China benar-benar sudah berang dengan kelakuan AS, yang diwakili oleh Trump.
"Ini adalah pelanggaran serius dari hasil pertemuan antara Presiden China dan Presiden AS," ujar Menteri Perdagangan China, dikutip dari CNBC International.
China merupakan salah satu pembeli terbesar produk-produk agrikultur AS. Bila pembelian tersebut terhenti, maka akan ada banyak petani AS yang terkena dampaknya.
Sayangnya, petani merupakan salah satu konstutien penting bagi Trump yang akan mengikuti pemilu tahun 2020 mendatang. Seharusnya ini pukulan telak bagi AS.

Baca : 

KONTAK PERKASA FUTURES – Harga Emas Antam Rp 690.000/Gram, Rekor Lagi!


Perang dagang semakin tidak terlihat ujungnya dan bahkan semakin parah.
Selain itu, pemerintah China disinyalir 'memainkan' mata uangnya.
Hal itu terjadi sebelum sesi perdagangan kemarin dibuka, dimana Bank Sentral China (People Bank of China/PBOC) menetapkan nilai tengah mata uangnya di level CNY 6,922/US$ yang merupakan terendah sejak 3 Desember 2018.
Sementara pada akhir perdagangan kemarin kurs yuan ditutup pada level CNY 7,03/US$ yang merupakan posisi paling lemah sejak Maret 2008.

Di China, pegerakan nilai mata uang tidak murni hanya karena mekanisme pasar. PBOC punya wewenang untuk menetapkan nilai tengah mata uangnya di setiap sesi perdagangan. Dengan cara tersebut, otoritas moneter dapat mengatur batas pergerakan mata uangnya.

Ada kemungkinan hal itu dilakukan untuk memperkuat ekspor China. Karena ketika yuan melemah, harga produk-produk asal Negeri Tirai Bambu menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Alhasil harga ekspor akan lebih kompetitif di pasar global.
Jadi walaupun sulit masuk ke AS karena ada bea impor yang tinggi, barang-barang 'murah' asal China akan lebih mudah menembus pasar di negar-negara lain.
Beberapa analis bahkan memperkirakan pelemahan yuan akan terus berlanjut dan menembus level CNY 7,3/US$, seperti dikutip dari Reuters.

Trum dibuat geram dengan langkah yang diambil oleh pemerintah China, yang lagi-lagi dituangkan melalui cuitan di Twitter.
"China melemahkan mata uang mereka ke level terendah hampir sepanjang sejarah. Ini disebut 'manipulasi mata uang'. Apakah Anda mendengarkan, wahai Federal Reserve? Ini adalah pelanggaran besar yang akan sangat melemahkan China dari waktu ke waktu!" tulis Trump melalui akun Twitter @realDonaldTrump.

Masih belum jelas langkah apa yang akan diambil oleh Washington selanjutnya. Namun jika kemudian banyak negara lain melakukan hal serupa (melemahkan mata uang demi menggenjot ekspor), maka terjadilah apa yang disebut perang mata uang.

Dalam kondisi seperti ini, tingkat ketidakpastian perekonomian global semakin membuncah. Investor semakin dibuat takut untuk masuk ke instrumen-instrumen berisiko.
Alhasil, emas banyak diburu karena sifatnya sebagai pelindung nilai (hedging).

(Asumsi kurs: Rp 14.000/US$) . Smber : cnbcnews

Senin, 05 Agustus 2019

PT KONTAK PERKASA - Duh! Dalam Tiga Hari, Riyal Hajar Rupiah Hingga 1,7%


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 05/08/2019 - Mata uang riyal Arab Saudi kembali menguat melawan rupiah pada perdagangan Senin (5/8/19). Penguatan hari ini membuat riyal menunjukkan kinerja impresif memasuki bulan Agustus dengan naik tiga hari beruntun. 

Pada pukul 17:40 WIB, riyal diperdagangkan di kisaran Rp 3.799 atau menguat 0,56% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Total dalam tiga hari terakhir riyal sudah menguat 1,7% dan berada di level terkuat sejak 19 Juni lalu. 




Penguatan dalam tiga hari langsung menghapus pelemahan 0,79% sepanjang bulan Juli. Riyal terus mendapat tenaga untuk menguat setelah bank sentral Arab Saudi yang memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,75% pada pekan lalu, menyusul kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed). 

Bank sentral Arab Saudi pada tahun lalu empat kali menaikkan suku bunga untuk membendung penguatan dolar akibat kenaikan suku bunga The Fed. Kenaikan suku bunga tersebut membuat roda perekonomian tersendat apalagi dengan harga minyak mentah yang tidak kunjung stabil. 

Pemangkasan oleh bank sentral Arab Saudi tersebut dapat memberikan stimulus ke perekonomian yang sedang terbebani harga minyak mentah yang belum stabil.


Sementara itu dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sepanjang kuartal II-2019 perekonomian Indonesia hanya tumbuh 5,05% secara tahunan (year-on-year/YoY), sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh CNBC Indonesia. Pertumbuhan ekonomi pada 3 bulan kedua tahun 2019 melambat jika dibandingkan capaian kuartal I-2019 yang sebesar 5,07%. 

Mengingat pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan kedua tahun ini ternyata melambat, maka target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah untuk tahun 2019 di level 5,3% tampak akan kian sulit untuk tercapai. 

Rilis data tersebut menambah tekanan bagi Mata Uang Garuda yang membuat sulit bangkit dari tekanan riyal.

smber: cnbcnews

Jumat, 02 Agustus 2019

KONTAK PERKASA FUTURES - Sang Pendekar Turun Gunung, Dolar Diusir ke Bawah Rp 14.200


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 02/08/2019 - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang masih melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Namun dolar AS kini berhasil didorong ke bawah Rp 14.200. 

Pada Jumat (2/8/2019) pukul 14:00 WIB, US$ 1 dihargai Rp 13.190. Rupiah masih melemah 0,57% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. 
Walau melemah, tetapi depresiasi rupiah menipis karena dolar AS sempat agak nyaman di kisaran 14.200. Apa yang membuat rupiah mampu memperkecil ketertinggalan? 

Sepertinya Bank Indonesia (BI) 'turun gunung'. Intervensi bank sentral di pasar valas dan obligasi pemerintah tampaknya lumayan besar sehingga membuat pelemahan rupiah terkikis. 
"Kita intervensi di pasar spot, DNDF (Domestic Non Deliverable Forward), dan bond (obligasi)," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Moneter BI Nanang Hendarsah kepada CNBC Indonesia, Jumat (2/8/2019). 

Berkat bantuan sang 'pendekar', nasib rupiah kini membaik. Walau masih tenggelam di zona merah, setidaknya kepala rupiah sekarang berada di atas air sehingga bisa agak bernafas. 
Apa boleh buat, memang sulit buat rupiah untuk tidak melemah. Pasalnya berbagai sentimen negatif menyemuti pasar keuangan Asia. 

Kamis, 01 Agustus 2019

PT KONTAK PERKASA - Uang Sekolah & Harga Emas Jadi Biang Kerok Inflasi Juli 2019


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 01/08/2019 - Melambungnya ongkos pendaftaran uang sekolah dan harga emas yang tinggi membuat inflasi Juli 2019 di atas ekspektasi pasar.

Inflasi Juli 2019 mencapai 0,31% atau lebih tinggi dari inflasi Juli 2018 lalu yang hanya 0,28%.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan komponen inflasi ini dikarenakan beberapa faktor.
PT KONTAK PERKASA

"Inflasi inti ini mencapai 0,33%. Ini naik karena kenaikan harga emas 0,03% dengan andil 0,20%," kata Suhariyanto di Gedung BPS, Kamis (1/8/2019).

"Dapat saya sampaikan inflasi 0,31% itu karena kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, emas, dan uang sekolah SMA," kata Suhariyanto.

Inflasi ini di atas ekspektasi pasar. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi Juli secara bulanan (month-on-month/MoM) berada di 0,25%. 

Sementara inflasi tahunan atau year-on-year (YoY) diperkirakan sebesar 3,25%. Sedangkan inflasi inti secara tahunan berada di 3,175%. 
SMBER : CNBCNEWS

Selasa, 30 Juli 2019

KONTAK PERKASA FUTURES - Menanti The Fed, Harga Emas Dunia Berpeluang Turun Hari ini


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 30/07/2019 - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (30/7/19) setelah mencatat penguatan dua hari beruntun. Meski demikian penguatan dalam dua hari tersebut tidak terlalu besar, dan harga emas masih "galau" antara menguat atau melemah. 

Semakin dekatnya pengumuman suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) membuat emas semakin "galau". Sebabnya pelaku pasar masih bertanya-tanya berapa kali Jerome Powell dan kolega akan memangkas suku bunga di tahun ini.

Pemangkasan suku bunga pada Kamis (1/8/19) dini hari nanti sudah pasti, dan harga emas sepertinya sudah price in atau sudah menakar pemangkasan tersebut. Yang belum pasti apakah pemangkasan masih akan berlanjut atau tidak? Jika berlanjut, berapa kali lagi suku bunga akan dipangkas? 

Sedikit memberikan gambaran, European Central Bank (ECB) pada pekan lalu tidak terlalu dovish dan kemungkinan tidak akan ada pemangkasan suku bunga yang banyak serta program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) dalam jumlah besar. 

Hal senada diungkapkan Bank of Japan (BOJ) pagi tadi. BOJ masih mempertahankan kebijakan moneternya, dan menyatakan tidak akan ragu untuk menambah stimulus jika kondisi ekonomi memburuk. Pernyataan tersebut masih sama dengan sebelumnya, sementara pelaku pasar mengharapkan BOJ akan memberikan gambaran akan stimulus akan digelontorkan. 

Dengan kondisi ekonomi zona euro dan Jepang yang tidak lebih baik dari AS, ECB dan BOJ mengambil sikap yang tidak terlalu dovish

Kondisi ekonomi AS cukup bagus, pertumbuhan ekonomi kuartal-II 2019 meski melambat namun masih lebih tinggi dari prediksi pelaku pasar. 


Hal tersebut membuat peluang The Fed tidak akan agresif dalam memangkas suku bunga semakin menguat. Belum lagi pandangan dari Ketua The Fed sebelum Powell, yakni Janet Yellen. 

"Saya pikir terkait dengan risikonya (pelambatan ekonomi), saya cenderung untuk memangkas (suku bunga) sedikit. Saya tidak melihat ini sebagai awal dari siklus pelonggaran moneter, kecuali terjadi perubahan kondisi ekonomi" kata Yellen, sebagaimana dikutip CNBC International.

Seberapa dovish The Fed akan terjawab Kamis dini hari nanti, hingga saat itu tiba harga emas masih akan "galau", bergerak naik turun tetapi tidak terlalu besar. Pada pukul 13:35 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.425,20/troy ounce atau Rp 642.256/gram (kurs US$ 1 = Rp 14015), mengutip data investing

Senin, 29 Juli 2019

KONTAK PERKASA - Melemah 6 Hari Beruntun, Dolar Australia Akhirnya Bangkit


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 29/07/2019 - Dolar Australia menguat melawan rupiah di pertengahan perdagangan Senin (29/7/19), setelah melemah dalam enam hari berturut-turut. Total selama periode tersebut Mata Uang Kanguru anjlok 2,05% hingga menyentuh level terlemah sejak Januari 2016 Rp 9.657,91/AU$, sehingga memicu aksi ambil untung atau profit taking yang membuatnya menguat hari ini. 

Pada pukul 13:15 WIB, dolar Australia diperdagangkan di level Rp 9.681,56 atau menguat 0,11% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Di awal perdagangan pagi ini, dolar Singapura juga sempat melemah ke level Rp 9.659,31, yang memberikan gambaran jelas penguatan siang ini akibat profit taking

Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) terus mengirim sentimen negatif bagi mata uangnya. Dalam dua bulan terakhir RBA sudah memangkas suku bunga dua kali masing-masing 25 basis poin (bps) ke menjadi 1% dan merupakan rekor terendah sepanjang masa. 

Tidak hanya itu, Gubernur RBA Philip Lowe berulang kali menyatakan suku bunga akan dipangkas lagi seandainya pertumbuhan ekonomi Australia tidak juga terakselerasi dan inflasi masih rendah. 

Pelemahan dolar Australia di pasar spot berdampak pada kurs jual beli dalam negeri. Berikut beberapa kurs jual beli yang diambil dari situs resmi beberapa bank siang ini.

BankKurs BeliKurs Jual
BCA9.642,009.722,24
BRI9.610,009.750,74
Mandiri9.659,009.707,00
BNI9.648,009.719,00

Jumat, 26 Juli 2019

PT KONTAK PERKASA FUTURES - Melemah, Rupiah Bisakah Balik ke Bawah 14.000 per Dolar AS?


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 26/07/2019 - Rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga perdagangan di tengah hari Jumat (26/7/19). Dengan pelemahan hari ini, rupiah menuju pelemahan mingguan pertama dalam enam pekan terakhir. 

Sikap bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang tidak terlampau agresif menjadi pemicu penguatan dolar AS. The Fed tidak akan memangkas suku bunga hingga 50 basis poin (bps) pada 31 Juli (1 Agustus waktu Indonesia) nanti. Data pesanan barang tahan lama AS yang naik pada Juni memperkuat prediksi pemangkasan hanya sebesar 25 bps.

Departemen Perdagangan AS melaporkan data pesanan barang tahan lama pada Juni naik 2% dari bulan sebelumnya yang turun 2,3%. Sementara, pesanan barang tahan lama inti (yang tidak memasukkan sektor transportasi dalam perhitungan) tumbuh 1,2% dari bulan sebelumnya yang naik 0,4%. 

Pesanan barang tahan lama ini menghitung jumlah produk terpesan yang memiliki umur ekonomis lebih dari 3 tahun. Bahkan kategori barang investasi untuk dunia usaha mencatat kenaikan sebesar 1,9%, menjadi yang terbesar dalam empat bulan terakhir, mengutip CNBC International.

Rilis data tersebut memberikan peluang pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto/PDB) AS lebih tinggi dari prediksi, yang pada akhirnya mempengaruhi probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed. 

Berdasarkan piranti FedWatch milik CME Group, sampai saat ini pelaku pasar masih melihat peluang The Fed memangkas suku bunga sebanyak tiga kali masing-masing 25 bps di tahun ini.

Peluang tersebut bisa saja berubah lagi merespon data pembacaan awal PDB (advance GDP) AS malam ini pukul 19:30 WIB. Hasil survei Reuters menunjukkan PDB AS di kuartal-II diprediksi tumbuh 1,8% lebih rendah dari kuartal sebelumnya 3,1%.

Pada pukul 12:24 WIB, rupiah berada di level 14.007/US$ melansir data investing.com.

Analisis Teknikal 

Melemah! Rupiah Bisa Balik ke Bawah 14.000 </i>Gak Ya</i>?Grafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Sumber: investing.com

Melihat grafik harian, rupiah yang disimbolkan dengan USD/IDR bergerak di atas rerata pergerakan (moving average/MA) 5 hari (garis biru) dan MA20 /rerata 20 hari (garis merah). Indikator rerata pergerakan konvergen dan divergen (MACD) masih di wilayah negatif, dengan histogram yang masuk ke wilayah positif. 

Melihat indikator tersebut, tekanan pelemahan dolar dalam jangka menengah sudah mulai berkurang.

Melemah! Rupiah Bisa Balik ke Bawah 14.000 </i>Gak Ya</i>?Grafik: Rupiah (USD/IDR) 1 Jam
Sumber: investing.com

Pada time frame 1 jam, rupiah berada di kisaran MA 5 (rerata pergerakan 5 jam/garis biru) dan MA 20 (rerata pergerakan 20 jam/garis merah). Indikator Stochastic yang berada di wilayah jenuh beli (overbought). Indikator tersebut terlihat akan membatasi pelemahan rupiah. 

Rupiah kembali melemah ke atas Rp 14.000, dan selama bertahan di atas area tersebut peluang pelemahan ke area Rp 14.052 terbuka lebar. Namun, sepertinya rupiah tidak akan melemah sedalam itu, mengingat ada rilis data PDB AS malam ini yang membuat investor berhati-hati, serta indikator stochastic yang overbought

Target realistis pelemahan rupiah hari ini ke level Rp 14.025. Sementara, jika kembali ke bawah Rp 14.000, rupiah bisa memangkas pelemahan menuju Rp 13.980. Rentang pergerakan potensial rupiah di sisa perdagangan hari ini di kisaran Rp 13.980-14.025.

Rabu, 24 Juli 2019

PT KONTAK PERKASA - Ekonomi Eropa Tambah Parah, Nilai Tukar Euro Jatuh


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 24/07/2019 - Mata uang euro melanjutkan pelemahan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/7/19) hingga mendekati level terlemah dalam dua tahun terakhir.

Kondisi ekonomi zona euro yang terlihat semakin memburuk membuat mata uang 19 negara ini terpukul. Euro melemah ke level US$ 1,1125 sebelum perlahan bangkit dan berada di level US$ 1,1137 atau melemah 0,13% pada pukul 15:20 WIB di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv.




Laporan dari institusi Markit menunjukkan aktivitas bisnis (sektor manufaktur dan jasa) di zona euro semakin merosot. Data aktivitas manufaktur dan jasa dirilis ini berdasarkan survei terhadap manajer pembelian sehingga disebut juga purchasing manager index (PMI). 

Indeks ini menggunakan angka 50 sebagai ambang batas antara kontraksi dan ekspansi. Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi atau penyusutan aktivitas, sementara di atas 50 menunjukkan ekspansi atau aktivitas yang berkembang. 


Jerman, negara dengan nilai ekonomi terbesar di Eropa menunjukkan kontraksi sektor manufaktur yang semakin dalam. Angka indeks yang dirilis Markit berada di level 43,1 di bulan ini, turun dari bulan Juni sebesar 45,0. Begitu juga sektor jasa yang melambat menjadi 55,4 dibandingkan sebelumnya 55,8. 

Selanjutnya Perancis, indeks manufakturnya mengalami pelambatan signifikan menjadi 50, ambang batas antara ekspansi dan kontraksi. Padahal di bulan lalu, sektor pengolahan ini masih berada di level 51,9, sebuah penurunan yang tajam hanya dalam sebulan. Sementara sektor jasanya masih menunjukkan ekspansi sebesar 52,2, tetapi melambat dari sebelumnya 52,9. 



Ternyata tidak hanya di dua negara tersebut, zona euro secara keseluruhan juga mengalami kontraksi sektor manufaktur yang semakin dalam. Markit melaporkan indeks aktivitas manufaktur blok 19 negara turun menjadi 46,4, menjadi kontraksi terdalam sejak Desember 2012. Sektor jasa masih lebih bagus, menunjukkan ekspansi 53,3, meski melambat dari bulan sebelumnya 53,6. 

Buruknya data aktivitas bisnis tersebut membuat spekulasi pemangkasan suku bunga European Central Bank (ECB) Kamis (25/7/19) besok semakin menguat. 

Mengutip Reuters, beberapa analis berpendapat ECB di bawah Presiden Mario Draghi akan bertindak memangkas suku bunga mendahului bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk mencegah euro menguat terhadap dolar AS. 

Pelemahan mata uang memang bukan target bank sentral dalam menurunkan suku bunga, tetapi pelemahan kurs diperlukan agar produk-produk dari zona euro lebih kompetitif. 


PT KONTAK PERKASA

Analis dari Bank ING memprediksi mata uang 19 negara ini akan turun lebih dalam saat ECB mengumumkan kebijakan moneternya, melansir FXStreet.com. Selain memangkas suku bunga, ECB juga diprediksi akan memberikan sinyal adanya program pembelian aset (surat berharga dan obligasi) atau yang disebut quantitative easing(QE).

Tujuh bulan lalu, Draghi dkk mengakhiri program QE, bahkan berencana untuk menaikkan suku bunga di sekitar semester-II tahun ini. Namun kini arah angin berubah, ECB malah diprediksi akan memangkas suku bunga dan kembali menggelontorkan QE. 
smber : cnbcnews

Selasa, 23 Juli 2019

PT Kontak Perkasa Futures - Saham Asia Tergelincir Karena Kerusuhan

Saham Asia Tergelincir Karena Kerusuhan - PT Kontak Perkasa Futures


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI - Saham Asia jatuh pada hari Selasa karena terseret akan kekhawatiran tentang perang dagang Sino-AS, protes di Hong Kong dan jatuhnya mata uang peso Argentina mendorong investor ke tempat yang aman seperti obligasi, emas, dan yen.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,26% sementara Nikkei Jepang jatuh 1,28%. Penjualan di pasar regional terjadi karena saham Wall Street terpukul pada hari Senin, dengan S&P 500 kehilangan 1,23%.

Sentimen sudah lemah karena meningkatnya tanda-tanda bahwa Amerika Serikat dan China tidak akan dengan cepat menyelesaikan perang dagang mereka selama setahun. Pasar terpukul dengan turbulensi lebih lanjut setelah pengunjuk rasa berhasil menutup bandara Hong Kong.

Pedagang juga gelisah setelah Presiden Argentina Mauricio Macri merasa terpukul akan hasil di pemilihan presiden, meningkatkan risiko kembali ke kebijakan ekonomi intervensionis - PT KONTAK PERKASA FUTURES

Sumber : Reuters

Senin, 22 Juli 2019

KONTAK PERKASA - Reli Harga Minyak Setop, Ternyata Ini Penyebabnya


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 22/07/2019 - Harga minyak mentah dunia masih terus menguat akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Namun proyeksi pertumbuhan permintaan tahun 2019 yang kembali dipangkas oleh International Energy Agency (IEA) membatasi penguatan harga.

Pada perdagangan hari Senin (22/7/2019) pukul 09:00 WIB, harga minyak Brent kontrak pengiriman September menguat 1,14% ke level US$ 63,18/barel.

Adapun harga minyak light sweet (West Texas Intermediate/WTI) naik 0,58% menjadi US$ 55,95/barel.


Pekan lalu, harga Brent dan WTI terkoreksi masing-masing sebesar 6,37% dan 7,61% secara point-to-point. Itu merupakan pelemahan mingguan yang paling tajam sejak akhir Mei 2019.



Pergerakan harga minyak hari ini masih didorong oleh tensi hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin tinggi. 

Akhir pekan lalu, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan telah menangkap kapal tanker milik Inggris di Teluk Persia atas tuduhan pelanggaran batas wilayah.

Kapal tanker kedua, Mesdar, yang juga dioperasikan oleh Inggris terlihat berbelok tajam ke arah pesisir Iran pada Jumat (19/7/2019) siang setelah melewati sisi barat Selat Hormuz, berdasarkan data pemantauan Refinitiv.



Kejadian tersebut terjadi setelah pada bulan lalu Inggris menangkap kapal tanker milik Iran di Selat Gibraltar. Angkatan Laut Inggris berdalih Iran telah melanggar kesepakatan dengan Uni Eropa.

Seorang pejabat senior di pemerintahan AS mengatakan bahwa pihaknya akan menembak jatuh semua drone milik Iran jika berada terlalu dekat dengan kapal AS.

Sebelumnya, Angkatan Laut AS mengklaim telah menembak jatuh drone milik Iran. Meskipun Menteri Luar Negeri Iran membantah telah kehilangan sebuah drone.

Sederet peristiwa tersebut membuat wilayah Selat Hormuz menghadapi ancaman keamanan yang serius. Para perusahaan pengiriman menjadi semakin enggan melewati kawasan tersebut bila tidak ada kepastian keamanan.

Mengingat Selat Hormuz merupakan jalur distribusi seperlima minyak mentah global, ketersediaan pasokan di berbagai negara importir ikut terancam. Semakin sulit untuk melepas pasokan dari Timur Tengah ke pasar.

Ada pula kekhawatiran konflik berkembang menjadi adu senjata. Beberapa bulan lalu Presiden AS, Donald Trump pernah mengancam akan melakukan segala tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya di Timur Tengah. Bahkan dengan 'kekuatan penuh'.

Timur Tengah merupakan salah satu kawasan dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Kala produksi di sana terganggu, pasokan global tentu akan berkurang signifikan.

Namun, akhir pekan lalu IEA kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak tahun 2019 menjadi tinggal 1,1 juta barel/hari. Pemangkasan tersebut merupakan kali kedua di tahun ini. Pada bulan Juni, IEA memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dari 1,5 juta barel/hari menjadi 1,2 juta barel/hari.

Alhasil risiko ketimpangan fundamental (pasokan-permintaan) balik mencuat. Kenaikan harga minyak hari ini menjadi terbatas. smber : cnbcnews

Jumat, 19 Juli 2019

PT KONTAK PERKASA - Dolar stabil pasca menguatnya spekulasi penurunan suku bunga Fed


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 19/07/2019 - Dolar AS sedikit pulih di awal perdagangan hari Jumat, pasca turun tajam setelah komentar dovish dari pembuat kebijakan utama mendukung ekspektasi penurunan suku bunga agresif bulan ini.
Pada konferensi bank sentral pada hari Kamis, Presiden Fed New York John Williams berpendapat untuk langkah-langkah pencegahan untuk menghindari transaksi dengan inflasi yang terlalu rendah dan suku bunga.
Dolar turun sebelum rebound pasca perwakilan Fed New York kemudian mengatakan komentar Williams bersifat akademis dan bukan tentang arah kebijakan langsung.
Euro melemah 0,2% menjadi $ 1,1261 tetapi tetap kuat dalam kisaran mingguan karena pedagang menunggu pertemuan Bank Sentral Eropa minggu depan.
Indeks dolar, yang mencapai level terendah dua minggu di 96.648, melambung ke 96.855. Dolar menguat terhadap yen, naik 0,3% menjadi 107,60. (Tgh)
Sumber: Reuters