Tampilkan postingan dengan label GOLD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GOLD. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2019

KONTAK PERKASA - Isu Resesi Kembali Dongkrak Emas, Bisakah Tembus Rekor Baru?



PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 28/08/2019 - Harga emas kembali menguat pada perdagangan Selasa (27/8/19) kemarin akibat isu resesi yang kembali menerpa Amerika Serikat (AS). Logam mulia ini kini mendekati rekor tertinggi tahun ini US$ 1.554/troy ons. 

Isu resesi di AS kembali muncul setelah imbal hasil (yield) obligasi atau Treasury AS kembali mengalami inversi. 

Inversi terjadi antara yield Treasury Tenor 2 tahun dengan 10 tahun. Artinya, yield tenor pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang yang menandakan investor melihat ada risiko yang lebih besar dalam jangka pendek. 


Data dari Credit Suisse menunjukkan sejak 1978 terjadi lima kali inversi yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun dan 10 tahun. Semuanya menjadi awal terjadinya resesi. Rata-rata resesi akan terjadi 22 bulan setelah inversi.

Kondisi perekonomian global memang sedang melambat di tahun ini, penyebab utamanya adalah perang dagang antara AS dengan China. Kini perang dagang kedua negara kembali tereskalasi dan laju perekonomian berpotensi semakin melambat. 

Kedua negara akan mengenakan tarif impor baru pada 1 September nanti. AS akan mengenakan tarif impor sebesar 15% tahap pertama untuk produk dari China dengan total nilai US$ 300 miliar. Sementara, China mengenakan tarif impor kisaran 5%-10% untuk produk dari AS dengan total nilai US% 75 miliar. 

Sejauh ini belum ada tanda-tanda akan ada penundaan berlakunya tarif impor tersebut. Sebelumnya di awal pekan Presiden AS, Donald Trump, mengatakan China menginginkan perundingan dimulai lagi dan kedua negara akan memulai pembicaraan dengan serius. 

Baca juga : 

KONTAK PERKASA – Enggak Cuma Emas, Investasi di Yen Juga Cuan Gede



"China menghubungi para negosiator dagang kita tadi malam dan mengatakan "mari kembali berunding", jadi kita akan kembali bernegosiasi dan saya pikir mereka akan melakukan sesuatu. (Ekonomi) mereka telah terpukul hebat tapi mereka paham ini perundingan ini hal yang benar untuk dilakukan dan saya memberikan rasa hormat untuk itu" kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International

Namun, nyatanya pihak China membantah hal tersebut.  "Saya belum mendengar kejadian terkait dua sambungan telepon yang disebut oleh pihak AS pada akhir pekan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang, dilansir dari CNBC International

Pasar kini dipenuhi ketidakpastian apakah akan ada perundingan dagang antara kedua negara dalam waktu dekat, Satu hal yang pasti, emas selalu diuntungkan jika ada ketidakpastian. 
smber : CNBC

Senin, 26 Agustus 2019

KONTAK PERKASA - Terbukti! Harga Emas Dunia Rekor Lagi Hari Ini


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 26/08/2019 - Harga emas dunia terus menanjak akibat perang dagang Amerika Serikat (AS)-China yang semakin memanas. Kedua negara telah sama-sama mengumumkan kenaikan tarif yang akan mulai berlaku dalam beberapa pekan ke depan.

Pada perdagangan hari Senin (26/8/2019) pukul 09:00 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember di bursa New York Commodities Exchange (COMEX) lompat 1,14% ke level US$ 1.555,2/troy ounce (Rp 700.090/gram).

Adapun harga emas di pasar spot melesat 1,18% menjadi US$ 1.544,17/troy ounce (Rp 695.124/gram).

Baca juga:

KONTAK PERKASA – AS-China Panas Lagi, Harga Emas Bisa Lebih Tinggi?

Posisi ini merupakan titik tertinggi sejak 6 tahun lalu, tepatnya 10 April 2013.

Sementara di sesi perdagangan akhir pekan lalu (23/8/2019) , harga emas COMEX dan spot ditutup menguat masing-masing sebesar 1,93% dan 1,84%. Sedangkan dalam sepekan, harga emas COMEX dan spot juga tercatat menguat masing-masing sebesar 0,92% dan 0,82% secara point-to-point.

Sebagaimana yang telah diketahui, akhir pekan lalu China telah mengumumkan bea masuk baru sekitar 5-10% atas produk impor asal AS senilai US$ 75 miliar. Untuk sebagian produk, bea masuk tersebut berlaku efektif mulai 1 September 2019. Selain itu ada pula beberapa produk yang bea masuknya batu akan berlaku per 15 Desember 2019.
Tak hanya itu, China juga kembali mengaktifkan bea masuk sebesar 25% terhadap mobil-mobil pabrikan AS, serta tarif 5% atas komponen mobil. Tarif tersebut mulai berlaku efektif pada 15 Desember 2019.
"Sebagai respons terhadap tindakan AS, China terpaksa mengambil langkah balasan," tulis pernyataan resmi pemerintah China, dilansir dari CNBC International.
Sebagai informasi, sebelumnya tarif atas mobil AS dan komponennya sudah pernah dikenakan oleh pemerintah China. Namun pada April 2019, tarif tersebut sempat dihapus seiring degan berjalannya perundingan dagang yang intensif dengan pemerintah AS.
Tidak perlu lama bagi Presiden AS, Donald Trump, untuk bereaksi terhadap langkah yang diambil Negeri Tirai Bambu.
Melalui cuitan di Twitter, Trump mengumumkan bahwa per tanggal 1 Oktober, pihaknya akan menaikkan bea masuk bagi US$ 250 miliar produk impor asal China, dari yang saat ini sebesar 25% menjadi 30%. Sementara itu, bea masuk bagi produk impor asal China lainnya senilai US$ 300 miliar yang akan mulai berlaku pada 1 September (ada beberapa produk yang pengenaan bea masuknya diundur hingga 15 Desember), akan dinaikkan menjadi 15% dari rencana sebelumnya yang hanya sebesar 10%.
Dengan begini, kondisi perekonomian global kembali diliputi hawa-hawa ketidakpastian. Kala dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia berseteru perihal perdagangan, maka dampaknya akan mendunia. 
Menakar Cuan, Emas atau Deposito? Smber : cnbcnews

Jumat, 23 Agustus 2019

KONTAK PERKASA FUTURES - Ketika Seluruh Mata di Dunia Melirik Emas


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 23/08/2019 -  Ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China hingga saat ini belum ada tanda-tanda ke arah penyelesaian. Bahkan setelah sempat mereda, kali ini kembali memanas.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, tidak hanya berlanjutnya perang dagang tapi kejadian di negara lain seperti Brexit hingga perlambatan ekonomi global masih menghantui pasar keuangan global.

"Perekonomian AS tumbuh melambat akibat menurunnya ekspor dan juga investasi non-residensial. Pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, Tiongkok dan India juga lebih rendah dipengaruhi penurunan kinerja sektor eksternal serta permintaan domestik," ujar Perry di Gedung BI, Jakarta, Kamis (23/8/2019). 

Baca:

KONTAK PERKASA FUTURES – Tunggu Pidato Bos The Fed, Harga Emas Makin Susut

Menurutnya, pelemahan ekonomi global yang terus berlanjut juga menekan harga komoditas dunia termasuk hanya minyak. Oleh karenanya, berbagai negara melakukan stimulus fiskal dan memperlonggar kebijakan moneter merespon pelemahan ekonomi global ini.

Hal ini juga dilakukan oleh Bank Sentral AS yang pada Juli 2019 telah menurunkan suku bunga kebijakannya. Langkah ini pun diikuti oleh sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia.

Selain itu, kondisi global ini juga membuat investor untuk mencari instrumen investasi lainnya yang aman untuk menyimpan dananya.


Emas pun muncul sebagai salah satu pilihan yang dianggap paling aman oleh investor untuk menyimpan dananya. Apalagi harga emas memang menguat di tengah ketidakpastian global saat ini.

"Ketidakpastian pasar keuangan global juga berlanjut dan mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman, seperti obligasi pemerintah AS dan Jepang, serta komoditas emas," tegasnya.


Lanjutnya, dinamika ekonomi global tersebut memang perlu dipertimbangkan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal.

Kamis, 22 Agustus 2019

PT KONTAK PERKASA - Bunga Acuan The Fed akan Turun 5 Kali, Harga Emas Jadi Labil

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 22/08/2019 - Harga emas dunia di pasar spot masih bertahan di level US$ 1.500/troy ounce setelah mengalami penurunan harga kemarin. Perhatian investor kali ini tertuju pada bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi akan agresif dalam memangkas suku bunga. 

Pada perdagangan Selasa harga emas mencapai US$ 1.508, setelah itu harga emas terkoreksi turun hingga perdagangan Rabu. Hal tersebut memberikan gambaran US$ 1.508 menjadi resisten (tahanan atas) yang cukup kuat. 

Secara teknikal, berdasarkan grafik harian emas masih bergerak di bawah rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), tetapi masih di atas MA 21 hari (garis merah), dan atas MA 125 hari (garis hijau). 
Foto: CNBC Indonesia

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif dan bergerak naik, histogram sudah memasuki area negatif, memberikan gambaran momentum penguatan yang melemah. 


Pada time frame 1 jam, emas bergerak di bawah MA 8 dan MA 21, tetapi masih di bawah MA 125. Indikator stochastic bergerak naik dari wilayah jenuh jual (oversold). 

Foto: CNBC Indonesia

Selama bertahan di atas level psikologis US$ 1.500, emas masih berpotensi menguat dan menguji kembali level US$ 1.508. Hanya penembusan konsisten di atas level tersebut yang dapat membawa harga naik lebih tinggi, dengan target menuju area US$ 1.1515. 

Sementara itu level US$ 1.500 ditembus ke bawah, emas berpeluang kembali terkoreksi ke area US$ 1.496. Penembusan di bawah area tersebut akan membawa emas turun menuju US$ 1.490. Smber : cnbc

Rabu, 21 Agustus 2019

KONTAK PERKASA - Duh! Ada Apa dengan Harga Emas, Pagi Hari Kok Labil?


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 21/08/2019 - Setelah sempat menguat, pergerakan harga emas masih terbatas dengan kecenderungan melemah. Sejumlah agenda yang akan berlangsung pekan ini membuat pelaku pasar belum agresif dalam mengambil keputusan investasi.

Pada perdagangan hari Rabu (21/8/2019) pukul 08:30 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember di bursa New York Commodities Exchange (COMEX) stagnan di posisi US$ 1.515,7/troy ounce (Rp 682.308/gram).

Sementara harga emas di pasar spot melemah 0,14% ke level US$ 1.504,29/troy ounce (Rp 677.172/gram).
Adapun kemarin harga emas COMEX dan Spot ditutup menguat masing-masing sebesar 0,27% dan 0,77%.

Baca:

KONTAK PERKASA – Fed Diramal Pangkas Bunga Lima Kali, Harga Emas Kok Melemah?


Pergerakan harga emas yang cenderung terbatas terjadi karena investor masih memasang mode wait and see sembari menunggu beberapa agenda ke depan.

Pertama adalah rilis risalah (minutes of meeting/MOM) rapat Komite Pengambil Kebijakan (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed edisi Juli 2019 pada hari Rabu (21/8/2019) waktu AS atau Kamis (22/8/2019) dini hari waktu Indonesia.

Seringkali MOM rapat FOMC dijadikan bahan bagi pelaku pasar untuk menebak arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Bila terdapat nada-nada yang semakin kalem (dovish) dari The Fed, maka pelonggaran moneter mungkin akan dilakukan lebih agresif. Rentetan penurunan suku bunga dalam jangka pendek semakin mungkin terjadi.

Kedua, pelaku pasar juga akan mencermati isi dari simposium Jackson Hole yang akan dilakukan mulai hari Kamis (22/8/2019) hingga Sabtu (24/8/2019) waktu AS. Simposium tersebut diadakan oleh The Fed dengan mengundang pihak-pihak terkait seperti perbankan dan pelaku usaha.

"Bila mereka [The Fed] berbicara mengenai pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, [harga] emas bisa kembali menanjak. tapi bila mereka berkata 'wait and see', [harga] emas kemungkinan akan turun," ujar Bob Haberkorn, strategist pasar senior RJO Futures, dikutip dari Reuters.

Sebagaimana yang diketahui, penurunan suku bunga acuan The Fed (Federal Fund Rate/FFR) akan menyebabkan dolar AS kebanjiran likuiditas. Mata uang Negeri Paman Sam pun akan punya kecenderungan melemah.

Dalam kesempatan itu, emas akan menjadi semakin menarik untuk investor. Pasalnya saat ini transaksi emas di pasar global dilakukan dengan dolar AS. Kala dolar melemah harga emas juga makin murah bagi pemegang mata uang lain.

Selain itu, investor juga akan terpapar risiko koreksi nilai aset kala dolar AS melemah. Alhasil emas juga akan semakin banyak diborong untuk dijadikan instrumen pelindung nilai (hedging).

Mengutip CME Fedwatch hari ini, probabilitas FFR diturunkan 75 basis poin hingga akhir tahun 2019 telah mencapai 50,4%, naik dari posisi hari Senin (19/8/2019) yang hanya 44,3%.

Sementara peluang FFR diturunkan 50 basis poin hingga akhir tahun 2019 tinggal 41,5% yang mana turun dari posisi awal pekan yang sebesar 42,5%.

Hal itu menandakan bahwa pelaku pasar semakin yakin penurunan suku bunga acuan Bank Sentral AS dilakukan dengan sangat agresif. Setidaknya hingga saat ini.

Selasa, 20 Agustus 2019

KONTAK PERKASA-FUTURES - Jokowi Bakal Larang Ekspor Nikel, Bagaimana Nasib Antam?

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 20/08/2019 - Pemerintah berencana mempercepat pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel kadar rendah yang semestinya berlaku mulai 2022 mendatang. Manajemen PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menilai rencana ini tidak akan berdampak kepada pembangunan smelter (pengolahan mineral) feronikel Antam.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan rencana pemerintah tersebut pada dasarnya tidak menjadi masalah bagi perusahaan, lantaran di dalam kontrak sudah ada klausul force majeure apabila ada perubahan peraturan.

"Tidak masalah lah," ujar Arie kepada CNBC Indonesia saat dihubungi, Senin kemarin (19/8/2019).

Lebih lanjut, ia menyatakan, perusahaan tetap akan mendukung penuh kebijakan pemerintah untuk menyetop ekspor bijih nikel. Dengan penyetopan itu maka harga nikel akan naik dengan sendirinya. Dia pun menegaskan, pelarangan ekspor nikel juga tidak akan berdampak kepada pembangunan smelter feronikel Antam.

Kendati demikian, Arie mengakui, jika ada penyetopan ekspor ore nikel maka Antam akan kehilangan potensi pendapatan dari komoditas itu meskipun tidak terlalu signifikan.

"Misal saja dalam setahun ada 4 juta ton ekspor sekitar US$ 150 juta per tahun kasarnya Rp 2 triliun. Target revenue kami kan bisa Rp 30 triliun. Jadi secara revenue untuk 1 tahun turun 7% lah," jelasnya.

Namun, lanjut Arie, akan ada kompensasi dari kenaikan harga dan peningkatan penjualan dan bauksit emas sehingga potensi Rp 2 triliun yang hilang itu bisa ditutupi.

Di sisi lain, Arie berpendapat, pemerintah memiliki pertimbangan lain yang lebih memberi keuntungan bagi bangsa dan negara dengan pelarangan itu. Ia mengatakan, dengan dihentikannya ekspor ore nikel maka harga nikel akan naik, dan perusahaan smelter akan mencetak lebih besar keuntungan, sehingga dapat berkontribusi lebih banyak lagi ke negara dalam bentuk pajak.

"Antam sebagai perusahaan negara harus mendukung bagi peningkatan nilai tambah bagi bangsa dan negara. Selain itu terjadi konservasi terhadap cadangan nikel yang ada di bumi," pungkasnya.

Pada perdagangan Selasa ini (20/8/2019), rencana pelarangan ekspor nikel ini membuat harga saham emiten-emiten nikel berguguran termasuk Antam. Saham ANTM minus 4,15% di level Rp 1.040/saham, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga turun 1,72% di level Rp 3.420/saham.

Menteri ESDM Ignasius Jonan sebelumnya menegaskan kebijakan percepatan larangan ekspor bijih besi sedang dipertimbangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Larang ekspor tersebut diberlakukan untuk mengembangkan industri hilir (hilirisasi nikel) agar nikel Indonesia punya nilai lebih.

"Presiden masih sedang mempertimbangkan, mau hilirisasi (nikel) ini dipercepat atau tidak," kata Jonan kepada CNBC Indonesia di Tembagapura, Minggu (18/8).
sumber : cnbcnews

Selasa, 06 Agustus 2019

KONTAK PERKASA FUTURES - Diserbu Dua 'Perang', Harga Emas Naik Lagi


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 06/08/2019 - Harga emas dunia masih terus menanjak dan berada di posisi tertinggi dalam enam tahun. Risiko perekonomian global yang meningkat akibat perang dagang dan perang mata uang (currency war) membuat investor banyak mengalihkan aset mereka ke bentuk safe haven.
Pada perdagangan hari Selasa (6/8/2019) pukul 09:00 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) menguat 0,42% ke level US$ 1.470,7/troy ounce (Rp 662.051/gram).

Adapun harga emas di pasar spot naik 0,18% menjadi US$ 1.466,19/troy ounce (Rp 660.021/gram).
Harga emas COMEX dan spot juga ditutup menguat masing-masing sebesar 0,49% dan 1,61% pada sesi perdagangan kemarin (5/8/2019).



Eskalasi perang dagang menjadi salah satu sentimen utama yang mendorong harga emas hingga saat ini.

Setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan mengenakan bea impor baru sebesar 10% atas produk asal China senilai US$ 200 miliar mulai 1 September 2019, China mulai mengeluarkan serangan balasan.

Juru bicara Kementerian Perdagagan China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal negaranya telah menghentikan pembelian produk-produk agrikultus asal AS, seperti dikutip dari Reuters.
Tampaknya China benar-benar sudah berang dengan kelakuan AS, yang diwakili oleh Trump.
"Ini adalah pelanggaran serius dari hasil pertemuan antara Presiden China dan Presiden AS," ujar Menteri Perdagangan China, dikutip dari CNBC International.
China merupakan salah satu pembeli terbesar produk-produk agrikultur AS. Bila pembelian tersebut terhenti, maka akan ada banyak petani AS yang terkena dampaknya.
Sayangnya, petani merupakan salah satu konstutien penting bagi Trump yang akan mengikuti pemilu tahun 2020 mendatang. Seharusnya ini pukulan telak bagi AS.

Baca : 

KONTAK PERKASA FUTURES – Harga Emas Antam Rp 690.000/Gram, Rekor Lagi!


Perang dagang semakin tidak terlihat ujungnya dan bahkan semakin parah.
Selain itu, pemerintah China disinyalir 'memainkan' mata uangnya.
Hal itu terjadi sebelum sesi perdagangan kemarin dibuka, dimana Bank Sentral China (People Bank of China/PBOC) menetapkan nilai tengah mata uangnya di level CNY 6,922/US$ yang merupakan terendah sejak 3 Desember 2018.
Sementara pada akhir perdagangan kemarin kurs yuan ditutup pada level CNY 7,03/US$ yang merupakan posisi paling lemah sejak Maret 2008.

Di China, pegerakan nilai mata uang tidak murni hanya karena mekanisme pasar. PBOC punya wewenang untuk menetapkan nilai tengah mata uangnya di setiap sesi perdagangan. Dengan cara tersebut, otoritas moneter dapat mengatur batas pergerakan mata uangnya.

Ada kemungkinan hal itu dilakukan untuk memperkuat ekspor China. Karena ketika yuan melemah, harga produk-produk asal Negeri Tirai Bambu menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Alhasil harga ekspor akan lebih kompetitif di pasar global.
Jadi walaupun sulit masuk ke AS karena ada bea impor yang tinggi, barang-barang 'murah' asal China akan lebih mudah menembus pasar di negar-negara lain.
Beberapa analis bahkan memperkirakan pelemahan yuan akan terus berlanjut dan menembus level CNY 7,3/US$, seperti dikutip dari Reuters.

Trum dibuat geram dengan langkah yang diambil oleh pemerintah China, yang lagi-lagi dituangkan melalui cuitan di Twitter.
"China melemahkan mata uang mereka ke level terendah hampir sepanjang sejarah. Ini disebut 'manipulasi mata uang'. Apakah Anda mendengarkan, wahai Federal Reserve? Ini adalah pelanggaran besar yang akan sangat melemahkan China dari waktu ke waktu!" tulis Trump melalui akun Twitter @realDonaldTrump.

Masih belum jelas langkah apa yang akan diambil oleh Washington selanjutnya. Namun jika kemudian banyak negara lain melakukan hal serupa (melemahkan mata uang demi menggenjot ekspor), maka terjadilah apa yang disebut perang mata uang.

Dalam kondisi seperti ini, tingkat ketidakpastian perekonomian global semakin membuncah. Investor semakin dibuat takut untuk masuk ke instrumen-instrumen berisiko.
Alhasil, emas banyak diburu karena sifatnya sebagai pelindung nilai (hedging).

(Asumsi kurs: Rp 14.000/US$) . Smber : cnbcnews

Kamis, 01 Agustus 2019

PT KONTAK PERKASA - Uang Sekolah & Harga Emas Jadi Biang Kerok Inflasi Juli 2019


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 01/08/2019 - Melambungnya ongkos pendaftaran uang sekolah dan harga emas yang tinggi membuat inflasi Juli 2019 di atas ekspektasi pasar.

Inflasi Juli 2019 mencapai 0,31% atau lebih tinggi dari inflasi Juli 2018 lalu yang hanya 0,28%.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan komponen inflasi ini dikarenakan beberapa faktor.
PT KONTAK PERKASA

"Inflasi inti ini mencapai 0,33%. Ini naik karena kenaikan harga emas 0,03% dengan andil 0,20%," kata Suhariyanto di Gedung BPS, Kamis (1/8/2019).

"Dapat saya sampaikan inflasi 0,31% itu karena kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, emas, dan uang sekolah SMA," kata Suhariyanto.

Inflasi ini di atas ekspektasi pasar. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi Juli secara bulanan (month-on-month/MoM) berada di 0,25%. 

Sementara inflasi tahunan atau year-on-year (YoY) diperkirakan sebesar 3,25%. Sedangkan inflasi inti secara tahunan berada di 3,175%. 
SMBER : CNBCNEWS

Rabu, 17 Juli 2019

PT KONTAK PERKASA FUTURES - Dibuat Bingung Data Ekonomi AS & The Fed, Emas Mau Ke Mana?


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 17/07/2019 - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (17/7/19), data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang bagus memberikan terkanan bagi logam mulia. 

Departemen Perdagangan AS melaporkan data penjualan ritel dan penjualan ritel inti (tidak memasukkan sektor otomotif dalam perhitungan) naik masing-masing 0,4% month-on-month (MoM), lebih tinggi dari prediksi di Forex Factory sebesar 0,1%.

Data itu menunjukkan ekonomi AS masih menunjukkan kinerja bagus di akhir kuartal-II 2019, apalagi melihat data tenaga kerja dan inflasi sebelumnya. 

Data penjualan ritel yang terkait dengan belanja konsumen merupakan komponen yang berkontribusi sekitar 68% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sehingga tingginya penjualan ritel bisa jadi akan positif bagi PDB AS periode April-Juni.

Hal ini tentunya jadi pertimbangan bagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk memutuskan apakah akan memangkas atau mempertahankan suku bunga pada 31 Juli (1 Agustus WIB)

Namun meski data dari AS masih positif, tetap saja ketua The Fed Jerome Powell tidak mengubah sikapnya. Saat berbicara di Paris tengah malam tadi Powell kembali menegaskan akan "bertindak sesuai kebutuhan" untuk mempertahankan ekspansi pertumbuhan ekonomi AS. 

Sikap Powell tersebut menjadi indikasi kuat suku bunga akan dipangkas akhir bulan nanti, sesuai dengan prediksi pelaku pasar. Tetapi sepertinya yang pelaku pasar masih ingin melihat gambaran lebih jelas, berapa kali sebenarnya bank sentral paling powerful di dunia ini akan melakukan pemangkasan di tahun ini. 

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, sehingga semakin rendah suku bunga di AS dan secara global, akan memberikan keuntungan yang lebih besar dalam memegang aset emas. 

Logam mulia juga sangat terkait dengan nilai tukar dolar AS. Kala greenback melemah, maka harga emas akan naik karena emas adalah komoditas yang dibanderol dengan dolar AS. Karenanya, spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed sangat mempengaruhi pergerakan emas. Pada pukul US$ 1.405,22 per troy ounce.

Analisis Teknikal 

Dibuat Bingung Data Ekonomi AS dan The Fed, Emas Mau Kemana? Grafik: Emas (XAU/USD) Harian
Foto: investing


Emas mencapai target penurunan US$ 1.405 pada perdagangan Selasa kemarin. Melihat grafik harian, emas yang disimbolkan XAU/USD masih bergerak di kisaran rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), MA 21 hari (garis merah), tetapi masih di atas MA 125 hari (garis hijau). 

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif tetapi bergerak turun dan histogram masih di wilayah negatif.

Dibuat Bingung Data Ekonomi AS dan The Fed, Emas Mau Kemana? Grafik: Emas (XAU/USD) 1 Jam
Foto: investing

Pada time frame 1 menit, emas bergerak di kisaran MA 8, tetapi di bawah MA 21 dan MA 125. Indikator Stochastic bergerak mendatar di dekat wilayah jenuh jual (oversold). 

Emas masih bergerak di kisaran US$ 1.405 yang menjadi support(tahanan bawah) terdekat. Selama tidak menembus ke bawah level tersebut, logam mulai berpeluang nauk ke area US$ 1.411. Penembusan di atas level tersebut akan membuka peluang ke area US$ 1.416. 

Sebaliknya jika support ditembus, emas berpeluang besar menguji level psikologis US$ 1.400. Jika level tersebut ditembus, emas berpotensi turun US$ 1.396.
Smber: cnbcnews

Selasa, 16 Juli 2019

PT KONTAK PERKASA - Cek Gaes! Saham Antam Untung 17%, Cuan Emasnya Berapa?


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 16/07/2019 - Kenaikan harga emas global dan emas batangan menjadi salah satu katalis penguatan harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. Investor tampaknya berekspekasi kenaikan harga emas tersebut bisa mendorong kinerja penjualan perseroan. 

Jelang penutupan perdagangan sesi I, Selasa (16/7/2019), harga saham Antam tercatat 1,7% ke level Rp 895/saham. Volume perdagangan saham emiten yang masuk anak usaha PT Inalum (Persero) ini mencapai 68,49 juta, senilai Rp 60,94 miliar. 

PT KONTAK PERKASA – Emas Terpeleset Kena Profit Taking, Tapi Tak Sampai Jatuh Kok


Harga saham Antam tampaknya tahun ini berada di jalur positif, di mana kenaiknnya secara year to date atau tahun berjalan mencapai 17% atau tepatnya 16,99%. 
Hal ini sejalan dengan harga emas dunia. Berdasarkan data Comex harga emas secara year to date naik 10,33%, sedangkan harga di pasar spot naik 10,21%. 

Sementara itu, harga emas batangan produksi Antam dalam pada periode yang sama untuk ukuran 1 gram tercatat naik 5,85%. 

Dalam sepekan terakhir, harga emas dunia sudah naik 1,07%, bahkan penguatannya mencapai 5,5% selama sebulan ke belakang. 

Oleh karena itu, komoditas ini sangat rentan terkena profit takingCuanbesar sudah didapat, sehingga investor bisa melepas emas kapan saja, harga pun terkoreksi. 

Selain itu, penurunan harga emas juga disebabkan oleh dolar AS yang cenderung menguat. Pada pukul 08:51 WIB hari ini, Dollar Index (yang mengukur posisi mata uang greenback ini di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,02%. 

Apresiasi dolar AS disebabkan oleh rilis data ekonomi yang positif. Bank sentral AS, Federal Reserves/The Fed New York melaporkan, angka pembacaan awal indeks manufaktur untuk negara bagian New York periode Juli ada di 4,3. Jauh membaik ketimbang Juni yang -8,6. Angka 4,3 juga di atas konsensus pasar yang dihimpun Reuters yaitu 2. 

Data ekonomi AS yang masih bagus ini membuat peluang penurunan suku bunga acuan mengecil, meski probabilitasnya masih sangat tinggi. Mengutip CME Fedwatch, kemungkinan penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) pada akhir Juli adalah 70,3%. Lebih rendah dibandingkan kemarin yang mencapai 77%. 

Jadi, masih ada harapan The Fed tidak jadi menurunkan suku bunga acuan (walau amat sangat tipis sekali banget). Sebab itu, dolar AS masih mampu menguat meski di rentang terbatas. 

Hubungan emas dan dolar AS adalah berbanding terbalik. Kala dolar AS menguat, emas justru melemah. 

Emas adalah komoditas yang dibanderol dengan dolar AS, sehingga kala greenback menguat maka harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Ini menyebabkan permintaan berkurang sehingga harga mengarah ke selatan.

Sumber : cnbcnews

Kamis, 11 Juli 2019

PT KONTAK PERKASA FUTURES - Peringkat Utang Naik, Harga Saham Antam Langsung Ngegas!


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 11/07/2019 - Pada perdagangan awal sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham produsen emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), sudah melaju 1,22% ke level Rp 830/unit saham yang membuatnya masuk ke dalam jajaran top gainers hari ini, Kamis (11/7/2019).

Hingga pukul 10.18 WIB, volume perdagangan saham Antam sudah mencapai 24,25 juta transaksi dengan total nilai transaksi (turnover) mencapai Rp 20,33 miliar. 

Penguatan harga saham perusahaan seiring dengan diumumkannya kenaikan peringkat utang ANTM oleh lembaga pemeringkat global, Standard & Poors (S&P).

Baca :

PT KONTAK PERKASA FUTURES -Emas Mendapat Dorongan The Fed Setelah Sinyal Positif untuk Pemotongan Suku Bunga


S&P menaikkan Corporate Credit Rating perusahaan dari 'B- dengan prospek positif', menjadi 'B dengan prospek positif' dikarenakan proyeksi pertumbuhan kinerja keuangan yang solid untuk 12 bulan ke depan yang didukung oleh pertumbuhan produksi dan penjualan komoditas.

Peringkat utang 'B (-/+)' bukan termasuk dalam kategori layak investasi. Peringkat ini diberikan kepada entitas yang saat ini diyakini memiliki kapasitas untuk memenuhi komitmen keuangan atas kewajiban yang dimiliki perusahaan. Namun kondisi bisnis, keuangan atau ekonomi yang buruk berpeluang melemahkan kinerja perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. 

Lebih lanjut, melansir press release perusahaan, ANTM sedang menyelesaikan konstruksi Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH) dengan kapasitas produksi sebesar 13.500 TNi, yang saat ini telah rampung 97%.

Penyelesaian proyek tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi feronikel ANTM dari 27.000 TNi menjadi 40.500 TNi per tahun.

Pada kuartal I-2019 perusahaan mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 8,51% secara tahunan menjadi Rp 6,22 triliun, dari Rp 5,73 triliun pada kuartal I tahun lalu. Komoditas emas masih menyumbang proporsi terbesar (63%) dari total pemasukan ANTM.

Akan tetapi, laba bersih perusahaan justru tercatat anjlok 30,12% secara tahunan menjadi Rp 179,69 miliar. Laba perusahaan tertekan karena peningkatan pada pos beban penjualan dan beban umum (dan administrasi) yang masing-masing naik 39,51% dan 31,26% secara tahunan.   Smber : cnbcnews

Senin, 08 Juli 2019

Kontak Perkasa - Harga Emas Dunia Anjlok Lagi, Sudah di Bawah US$ 1.400/Oz


PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 08/07/2019 -  Harga emas dunia masih terus melemah akibat harapan penurunan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang sedikit pudar.

Pada perdagangan hari Senin (8/7/2019) pukul 09:30 WIB, harga emas kontrak pengiriman Agustus di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) melemah 0,11% ke level US$ 1.398,5/troy ounce (Aoz). 

Adapun harga emas di pasar spot turun 0,24% menjadi US$ 1.396,25/troy ounce.

Baca : 

Kontak Perkasa – Waduh, Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp 9.000/Gram

Sepekan kemarin, harga emas COMEX dan Spot juga tercatat melemah masing-masing sebesar 1,46% dan 1,11% secara point-to-point.



Akhir pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan angkat penciptaan tenaga kerja non-pertanian periode Juni sebesar 224.000.

Angka tersebut jauh lebih besar ketimbang prediksi konsensus yang hanya 160.000 lapangan kerja, mengutip Trading Economics.

Data tenaga kerja merupakan salah satu indikator ekonomi yang digunakan oleh The Fed dalam mengambil kebijakan moneter, termasuk tingkat suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR).

Jika kondisi tenaga kerja AS masih cukup kuat, alasan The Fed menurunkan suku bunga acuan menjadi lebih terbatas.

Meskipun demikian, probabilitas The Fed menurunkan suku bunga di rapat komite pengambil kebijakan (FOMC) bulan Juli masih 100%.

Mengutip CME Fedwatch, probabilitas FFR turun 25 basis poin mencapai 93,1%. Sementara peluang FFR turun 50 basis poin adalah 6,9%.

Selain itu, data tenaga kerja yang cemerlang juga membuat pelaku pasar bisa mulai tenang untuk masuk ke instrumen-instrumen berisiko. Pasalnya, kondisi tenaga kerja menjadi indikasi perekonomian masih terjaga. Risiko investasi pun sedikit surut. 

Emas yang merupakan instrumen pelindung nilai (hedging) pun agak ditinggalkan.

Pelaku pasar juga mulai berani masuk ke instrumen berisiko akibat optimisme damai dagang AS-China yang kembali muncul.

Baca :  Pasca Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping bertemu di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 29 Juni silam, kedua negara sepakat untuk kembali melakukan perundingan dagang.

Bahkan sebuah perundingan antara delegasi dagang kedua negara akan dilakukan pekan ini.

Setidaknya tidak ada risiko eskalasi perang dagang selagi AS dan China berunding. Investasi di aset-aset berisiko seperti saham pun balik diminati. Kilau emas pun semakin pudar.
smber : cnbcnews